Oleh : Yusrizal Yushar
Alhamdulillah, terima kasih kerana masih memberi peluang untukku meniti hidup-hidup yang mendatang sehingga ke hari ini,” ucapku penuh syukur. Kutolak selimut yang membalut tubuh, bergegas ke kamar mandi, mengambil wuduk. Air sembahyang terasa segar di wajahku, dan uuups, aku sudah selesai berwuduk. Isteri dan anakku sudah menanti di tikar sembahyang.
Haiya Alassolah, azan dari masjid kedengaran jelas memecah keheningan subuh. Kusahut panggilan-Mu ya Allah, bisikku dalam hati. Aku tidak tahu kenapa dalam sujudku yang panjang untuk kali ini terlau syahdu terasa. Air mata mengalir deras, setitis demi setitis. Ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan Ya Allah ampunilah seluruh kaum muslimin dan muslimat. Sampai disini aku tersedu, sebak rasanya dada ini, ada sesuatu yang mengusik hatiku!
“Mama, kenapa ayah menangis?”, si bongsu memeluk leher ibunya, ibunya senyap tanpa mengeluarkan walaupun sepatah perkataan. “Aliff, mari dekat ayah sekejap sayang,” panggilku dengan nada penuh kasih sayang.
“Ayah tak menangis, ayahkan sedang berdoa,” jelasku panjang lebar. “Oohh, kalau orang berdoa kena menangis ke ayah?” lanjutnya lagi dengan rasa binggung. Aku cuma tersenyum sambil tangan anak manjaku ini kutarik, dan kudakap erat-erat.